Senin, 29 September 2014

Elena

Waktu itu baru saja aku memasuki semester kedua di bangku SMA ku. Aku adalah seorang santri di salah satu Pondok Pesantren terkenal di Jawa Tengah. Panggil saja aku Elena Ketika itu dua minggu sekembalinya aku dari Liburan panjang yang ku habiskan di kampung halaman ku. Sumbawa Barat. Hari itu sama seperti biasanya. Hiruk pikuk terburu-buru mengantri kamar mandi terdengar dari kamarku yang berada di lantai 2. Tidak ada yang berbeda sampai ku rasa ada dua benjolan sebesar kelereng di tengkukku. Tapi benjolan itu tidak ku pedulikan. ‘Besok juga hilang’ batinku lantas segera bersiap untuk berangkat sekolah. Sambil menunggu teman sekamarku berangkat sekolah, aku memakai sepatu ku. Tak lama kemudian yang ku tunggu pun datang, lalu kami sama-sama menuju kelas. Kelasku berada tidak jauh dari kamar. Tak sampai 5 menit aku sudah duduk santai di kelas. Aku memang tidak terbiasa sarapan di resto yang disediakan. Jadi aku baru akan sarapan ketika kantin buka pada pukul 09.30 nanti.

Pelajaran ku lalui dengan biasa saja. Tak ada yang benar-benar istimewa hari ini. Hanya saja badanku terasa sedikit sakit. Pada jam istirahat aku merasa sangat pusing. Sehingga memutuskan untuk tidak ke kantin yang pasti sangat ramai. 15 menit kemudian bel tanda memulai pelajaran setelah istirahat berbunyi. Semua santri masuk kelas dengan tertib. Aku masih meletakkan kepala ku diatas meja ketika ustadzah masuk untuk mengajar. Kali itu, aku tidak memperdulikan apa saja yang dijelaskan ustadzah di depan, kepala ku serasa berat.

“El.. El.. bangun. Balik kamar yuk” ajak Syifa teman sebangku sekaligus sahabatku itu. “loh? Aku dari tadi tidur to?” Tanya ku setengah sadar. “sst.. ngomong e loh.. ojo keras-keras. Ini hari bahasa tau” tutur nya dengan sedikit logat jawa yang dipaksakan. Orang tua Syifa memang orang Jawa, namun Syifa dibesarkan di Mataram. Tentu saja logat lomboknya lebih jelas tedengar daripada logat jawanya. “lah, itu antum ngomongnya pakai bahasa jawa malahan” ujarku. “El, kamu sakit tah? Ku antar sampai kamar mu ya?” tawarnya, tak acuh dengan ucapanku. Kamarku dengan Syifa meman berbeda asramah. Asramah di pondokku memang dibedakan berdasarkan prestasi santri. Santri yang memiliki prestasi akademik dan ekstrakulikuller diposisikan di asramah Daarul Arqom. Yang berprestasi dibidang akademik diposisikan di asramah Daarul Qolam. Yang berprestasi dibidang ekstrakulikullerr diposisikan di aseamah Daarul Ulum. Yang posisikan tidak berdasarkan prestasi hanya kelas 12 dan kelas 7. Kelas 12 diposisikan di Daarul Najah lantaran akan menghadapi ujian nasional. Kelas 7 diposisikan di mantiqotu ula, lantaran masih perlu pembinaan dari ustadazah (mantiqo ula berada didekat pemukiman ustadzah). “Ayo El” ajak Syifa sambil membopongku. Aku menurut. Melangkah pelan-pelan dengan dipegangi Syifa.

Sesampainya dikamar aku langsung tiduran tanpa memikirkan I’lan yang sudah mencapai hitungan ke 4 atau arba’a.  I’lan adalah pemberitahuan, I’lan kali ini ada pemberitahuan untuk solat bejamaah di masjid. Persiapan solat hanya diberikan waktu sampai hitungan ke 5 atau homsah. aku miminta temanku untuk mematikan AC di kamar. Rasanya hari ini dingin sekali. Teman-temanku bingung namun menurut. Mereka mematkan AC yang berada didekat ku dan mebiarkan yang satu nya tetap menyala.

Aku terbangun ketika badanku diguncangkan. “Hayya ukthti. Kum” ujar Uul, tetangga kamarku membangunkan. “limadza?” Tanya ku. “Latihan ukhti. Antum kan narrator drama bahasa” ucapku sambil memangunka pemeran drama bahasa yang lain. Dengan malas aku kembali memejamkan mata. Aku bisa medengar Uul yang menggerutu lantaran aku tidur lagi. Namun teman kamarku memberitahu bahwa aku memang sedang tidak enak badan. Dengan begitu Uul pun mengijanku untuk tidak latihan hari itu. Hari itu ku lalui dengan malas.

Aku merasa lebih baik setelah mendengar itu. Langsung saja aku kembali ke kamar dan beristirahat. aku bangun karena Uul membangunkanku untuk latihan lagi. Aku memaksakan diri untuk bangun, teman-temanku menatap ku aneh. “kenapa?” Tanya ku bingung dengan tatapan aneh mereka. “El, kok badanmu merah-merah gitu?” Tanya Citra. Aku bingung lalu melihat tanganku, kemudian kakiku lalu berlari kecil ke cermin untuk melihat wajahku. Badanku dipenuhi bercak merah. Dari tangan, kaki, dan wajah. Semuanya dipenuhi bercak merah. Lalu aku bergegas menuju UKP lagi untuk memeriksakan.

Dokter mengatakan bahwa aku sakit campak dan diperbolahkan untuk pulang ke rumah. Dokterpun menelpokan papa untuk menjemputku. Hari itu aku menginap di UKP lantaran campak adalah salah satu penyakit yang menular.  Esok nya papa menjemput dan langsung membawaku pulang. Aku diberi waktu 2 minggu untuk istirahat di rumah. Hari itu juga aku langsung menuju mataram. Malamnya papa membawaku ke dokter THT untuk memeriksakan benjolan dibelakang leherku. Dokter menanyakan keluhan ku, lalu diam sebentar. Kemdudian beliau memutuskan untuk memeriksakan aku ke labolatorium karena rambutku yang rontok dalam jumlah banyak. Aku pun cek darah dan urin di lab. Hasilkan baru bisa diambil seminggu kemudian.


Dirumah aku hanya makan, tidur, solat. Tak ada pekerjaan lain yang bisa ku lalukan karena badanku masih saja tidak enak. Satu minggu berlalu, aku dan papa kembali ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab dan mengkonsultasikannya dengan dokter. Beberapa saat setelah dokter membaca hasil lab, aku dipersilahkan menunggu di luar. Hanya papa yang dibiarkan mendengar hasil labku. Perasaan ku tak enak. Aku menunggu cemas. Berharap semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi. Lama berselang papa keluar dari ruang dokter dengan tersenyum. Aku lega melihatkan. Belakang aku sadari, ada yang aneh dengan senyum papa kali ini. 

Jumat, 22 Agustus 2014

kacau

Aku tak bisa tidur malam ini
Seperti sedang kacau ah bahkan mungkin bukan sekedar kacau
Aku tak bisa menjelaskan apa yang ku rasa kini.. bercampur, terporak poranda
Ingin menangis untuk menertawakan hal hal yang ku perbuat
Ku pikir air mata takkan jatuh
Tapi ia tetap memaksa untuk keluar
Sial
Aku merasa seperti sampah
Teracuhkan dalam kebusukan…
aku sering mendengar mereka menasehati ku
mengingatkan ku bahwa aku masih terlalu muda untuk patah hati..
tapi aku tak paham, aku tak menggubris
ah tuhan… apa sebodoh ini kah rasanya patah hati?
Bingung.. sedih.. marah…
Ah lama sekali waktu ini bergulir..
Aku ingin pagi segera menjemput,
Agar segera ku lupakan hal buruk malam ini
Tapi bahkan aku tak yakin aku bisa melakukannya
Ayolah.. tak adakah mesin yang bisa membuatku lupa?
Atau sesuatu yang membuatku tidak bisa merasakan apa apa?
Atau mungkin alat yang bisa membuatku tidur dan terbangun dengan keadaan yangtidak lebih buruk..
Seandainya saja ada, langsung saja ku gunakan tanpa pikir panjang..
Apaku kah yang bersalah
Apakah dia
Apakah hati yanh bersalah?
Ah mungkin saja waktu..
Tapi mengapa waktu membuat kesalahan?
Apa dia jenuh dengan alur nya yang terus saja begitu?
Aku lupa
Waktu tak bisa disalahkan
Lalu siapa yang salah? Angin malam kah?
Tidak tidak..
Bukan angin malam,
Hanya pikirku sajalah yang sedang kalut..
Tak mengerti
Akuvtau dia menyinta ku lebih dari apapun
Meninggalkan hal hal yang penting baginya untuk mengurusku
Lalu mengapa aku tak bisa sedikitpun menurut?
Bahkan dengan tega aku berbohong,
Sedikit demi sedikit memang, tapi bukankah itu membuat luka yang cukup banyak di hatinya?
Aku benar benar tak bisa berpikir jernih..
Ingin sekali ku membjuk waktu..
Untuk kembali sebentar saja,
Untukku mejelaskan bahwa sebenarnya aku lah yang bersalalh

Dan dia tak perlu meminta maaf…

Jumat, 15 November 2013

nyesek

guyyss,, ini gw nulisnya pas lagi kelkom :)
gw usahin nulis buat ngobatin rasa kangen lo semua ke gw,, hahaha

well, gw cuman mau berbagi dikit, ini cerita ttg ultah gw..
bayangin guys, masa pas lo ultah ternyata cowok lo gak tau,, yaahh emang sih gw sadar kalo gw tuh dipondok dan gak mungkin cowok gw bisa ngasih selamat ultah tepat pada hari ultah gw,,, tapi seeenggaknya nih ya dia kan bisa ngucapin lewat fb,, iya gak??

eiitss bukann, bukann dia gak perhatian kayaknya.. tapi tapi tapi dia cuman terlalu sibuk sama kerjaannya dipondok,, biasa anak bela diri gituu,, (ceileee) hahah

en denn,, gw gak bisa ngetik panjang2 nihh,, doain aja gw selalu sehat dan gw bisa pulang dengan selamat biar gw bisa ngelanjutin You Belong With Me dan ngetik cerita baru gw yang judulnya SHOULDN'T
penasaran gmn cerita baru gw? #GAKKKK!!!

sial. ini buat yang penasaran aja. cerita itu adalah cerita standar ttg cewek cuek yang kehilangan sahabatnya. udah gitu aja, kira2 sahabatnya itu kemana ya? pengen tau? kepooo dehhh

udahh yaa, see yaa,,
love you most guys!

Rabu, 23 Oktober 2013

balik deh gw

hiii guyss!!
yeaahh akhirnya blog gw udah balik kayak sedia kala,, hepi bangeet dahh gw
makasih ya buaat richabit fista yang udah mau susah2 gw minta tolongin buat benerin blog gw yang gak ada apa2nya ini
gw mampus2an buat minta tolong, biar gak ngecewain kalian2 guys,,
oia buat pecinta you belong with me gww ngelanjutinnya besok desember aja ya,, doain moga gw pulang ke rumahh,

 terus buat yang pengen ceeerita lain tenang aja,, gw udah nyelseiin saatu ceerita yang gw kerjain di waktu2 ngaggur gw,, soalnya gw kan pengaacara gitu alias pengangguran banyak acara,,
sekian dulu ya karena gw ini sambil menyelam minum air, (keselek mampus)

Jumat, 02 Agustus 2013

ortu gw? ortu lo?



haiiihooo ceman cemann,,
wahh sudah lama sekali gw gk ngepost ya? #alay
gini aja nih,, karena buku you belong with me nya dirumah gw yg satunya,, jadi gw bagi tips aja ye? gmn? setuju gak? setuju gak setuju tetep gw kasik :p

langsung aja ye,, ini dia

menurut inpo yang  gw baca tipe orang tua ada tiga, demokratis, otorier dan satu lagi permisif,, 

biar gw jelasin dulu satu2, orang tua yang otorier adalah contoh orang tua yang gak pernah dengerin apa yang dimauin sama anak, mungkin diantara kita ada yang mbatin "ortu gw banget" ok well,, oru ge jg mendekati ini. ortu jenis ini cenderung memaksakan kehendak, apa yang mereka bilang pasti menurut mreka itu yang paling baik buat si anak, padahal yang lebih tau potensi anak itu ya anak itu sendiri,, oh tunggu, kalo di anak okelah dikekang, tapi well kita remaja, jadi gak harus dikekang juga kan? tipsnya kalo ortu lo termasuk yang ini, baiknya lo ngikutin dulu terus pelan2 lo ngomong baik2 ke ortu lo,, inget, PELAN PELAN... ada tahapnya bray..

yang kedua jenis ortu permisif,,  orang tua kayak gini pasti bikin envy remaja yang punya ortu otorier,, mmh ini jenis ortu yang ngebebasin anaknya mau ngapain sepenak e dewe --" gak baik buat anak yang masih abg,, soalnya semua hal yang berhub dg 'something' yg sedang tumbuh pasti butuh sesuatu untuk bersandar, iyakan?? tips nya nih buat yang ngrasa ortunya kayak bgini, lo deketin tuh ortu,, ajak ngobrol apa kek, yang penting lo deket aja sama mreka,, yakin deh gak bakal bgini lagi,, insya Allah :) kalo gak gitu ya nikmatin aja kebebasan lo asal gk kelewatan juga gpp kan?

yang terakir adalah jenis ortu yang demokratis,, well ini jenis ortu yang paling dipengenin sama hampir semua abege kayak kita, ato remaja kayak kita ato teenager kayak kita ato #PLAAAK# ortu ini ngikutin potensi anak,, selama itu baik mereka gak bakal pernah ngelarang,, asik kan? selamat deh buat lo yang ortunya kayak gini,, tips ngadepinnya? kayaknya lo gak butuh deh --" :D

udehh yee, ini duluu,, ada ide buat tips apa gitu? ntar gw kasiik :p
ato ada yang mw protes ttg cerbung? silangkan leave a comment :)

Kamis, 20 Juni 2013

Si Dia Gak peka?



Wehh mesti bete banget sama someone kayak gini,, bawaanya pengen ngejotos gitu sekali2,, wkwkwk...

Kalo kata sherina “gregetan” wkwkwk...
Nah ini gw mau sharing aja nih sama kalian,, sesama ABABIL gitu deh,,
Sebenernya nih ya guys, temen2 gw yang cwek.. cowok itu bukannya gak peka.Mereka kebanyakan cuman ‘pura-pura’ gak peka. Tau sendiri lah kebanyakan cowok itu lebih suka something yang langsung to the point, gak berbelit2. Dan maybe nih ya, nunggu waktu yang tepat.

 ‘gileee lama amat nunggunya’ haha,, namanya juga cwok, manusia jenis ini nih gak ngedepanin perasaan kayak kita girls, mereka bakal mikir sampe bener2 mantep,, (jangan berpikir kalo moto idup mereka ‘berpikirlah sebelum berbuat’) wkwkwk,,
Kalo lo udah bener2 gregetan tuh cowok gak ngerti2 maksut sinyal yang lo kasih, hal yang lo lakuin ya tinggal sabar. Lo ajak chat aja tuh cwok. Cari tau apa yang dia sukain, trs misalnya tuh cowok suka avenged sevenfold,, nah walopun lu gak suka, cba lo cari tau apa aja yang berhubungan dengan itu band,, minimal lo tau dikit2 deh, selebihnya kan lo bisa sok tau gitu,,
Tapi ada juga nih cowok yang otaknya bener2 bebal alias keras kepala. Gak ngerti apa2 alias hola holo tingkat dewa,, wkwkwk *maap yak* nah yang tipe kayak gini kayaknya lo harus ngomong deh. Ini 2013 man! Cewek nembak cowok? Biasa aja...

“emang lo pernah nembak cowok sya?” hahha,, gw? Jangan tanya deh, gw takut klo cowoknya mati gw tembak, #gubrakk# well gw sih belom pernah naksir cowok yang bener2 bebal yah, jadi gw gk pernah nembak cowok.

Oia, kalo ntuh cowok masih aja cuek, cba lo deketin orang yang paling deket sama dia, abis itu lu caper dikitlah, *inget DIKIT jangan banyak2 ntar yang lain gk kebagian --“
Nah,, karna dsni gak ada jaringan internet, jadi ini mungkin sedikit gk bisa diterima karna elsya gk punya sumber --“

Yang jelas hasil wawancara gw 5 dari 7 cowok bilang kalo mereka cenderung pura2 gak ngerti apa maksud sinyal yang dikasih sama kita2 girls,,

Dah ye, kapan2 lagii,, see ya :*

You Belong With Me #part 9



Lanjutin gak nih?
Wkwkwkwkwkw,, ayok lanjutin aja!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Na! Udah jadi nih!’’ teriak Rena dari kamar. Membuyarkan lamunan bingungku. “Iya!” teriakku berlari kecil menuju kamar. “nih” ucap Rena sambil memberi gelas hangat. “Thanks” ucapku lalu meminum jahe-temulawak itu.

“Eh, bunganya cantik banget! Cocok sama piama yang lo pake!” ucap Rena. Aku kaget. Astaga, itu bunga dari Cobey. “Eh, iya nih. Cantik kan?” ucapku. Mengambil bunga itu lalu meletakkannya di vas yang sama dengan mawar putih semalam.

“Na, menurut lo, kalo ada yang nembak lo,, terus dia bilang ‘Gw gak suka penolakan’ itu maksutnya apa?” tanyaku sambil meminum jahe-temulawak ku. “Gilaa!!” pekik rena. (hampir saja membuatku tersedak). “Sapa yang nembak lo pake cara gitu?” ucap Rena kaget. “gila apanya?” ucapku polos. “Lu gak usah pura2 bego gitu deh Na! Itu maksutnya, lo mau ato gak. Lo nolak ato nerima. Lo tetep jadi pacar dia” ucap Rena. See? Aku shock.

“Jadi, maksutnya... walopun gw gak mau, gw harus tetep pacaran?” ucapku panik. “Iya Na!” ucap rena tak kalah panik. Lalu tersenyum samar. “Hahaha,, asek... lo ditembak model gitu?” tanya rena. Aku mengangguk. “Aihh, siapa cowok malang yang mau pacaran sama cewek sebawel Elena sih?”. “Sialan lo, hahaha.. kalo misalnya gak ada yang mau, gak mungkin gw ditembak dangan cara sesadis itu” ucapku. “hahaha... iya sih. Dah abisin minumnya, baru kita siap2 buat lomba” ucap Rena.
Dia lekas mandi duluan. “oia, kita pake baju apa nih?” tanya Rena sebelum mandi. “Oh iya! Gimana kalo kita pake...”

Tok..tok...tok...

“Ya?” jawabku ergegas membuka pintu. “na, kita pake baju apa?” tanya Ray berdiri di depan pintu. “Ehm, jangan bilang pake baju kuning” ucap Cobey yang baru muncul tiba2. “Yeah! Whatever. Gabungan bmerah item kayaknya keren” ucapku sambil berpikir. “Bebas?” tanya Cobey. “Yo’a” ucapku canggung dan Cobey terlihat biasa2 saja. Seolah gak ada kejadian apa2 tadi pagi.

“Oia, Wel. Lo dah tau jawabannya?” tanya Ray. Aku menyerit bingung. “Masa lupa sih?” ucap Ray. Lalu menatap mataku. Astaga ><’ kejadian semalan ya? “mmh, Ray... “ ucapku gantung. Lalu melirik Cobey. Dia menatapku seolah berkata ‘gw gsk suka penolakan’. “Sorry Ray. Gw gak bisa, gw ada rasa sama orang lain” jawabku. Air muka Ray berubah. Lantas tersenyum kembali.

“Oke, gw hargai. Tapi kita tetep sobatan kan?” ucap Ray sambil memnadang jail. “Yo’a” ucapku. Ray pamit dan Cobey mendekat. “Makasih sayang” ucapnya lalu pergi. Aku hanya mengangguk. ‘asal lo tau, orang lain yang gw maksud disini buka loe, cobey! Tapi Rio! Rio orang yang gw suka!’ jeritku dalam hati. Tentu saja dalam hanya dalam hati. Huh, ternyata Rena sedang mandi. Yah aku akan melakukan kebiasaan lamaku yang sudah jarang sekali ku lakukan sekarang. Menulis diary.

Dear diary,
Kapan ya gw bisa jujur sama perasaan gw sendiri?
Nyiksa ya klo kita mendem rasa ke orang yang emang jelas2
Udah punya pacar,,
Mana sekarang gw harus boongin perasaab gw sendiri lagi!
Gw harus pacaran sama orang yang jelas2 gw gak punya rasa apapun!
What a pity girl i am! :’(

Me,
Elena Carlson

“Elena! Sumpah lo!! Kok gak cerita?!! Kapan lo jadian sama Cobey? Gimana dia nembaknya?!” teriak rena sesudah mandi. –Gila-heboh-pake-banget-. “Lah? Kan gw dah bilang! Cobey cowok yang nembak gw dengan cara gila itu” ucapku bergegas mandi. “Sumpa? Asek dah. Langgeng yak? Yang penting bayar PJ nya” ucap Rena. “LO aja gak bayar PJ” ucapku masuk kamar mandi. Sempat ku dengar rena bilang “iya ding”

------------------------------

“Cantik gila cewek satu ini” pujiku melihat Rena yang masih matut2 di depan cermin. Rambutnya dikepang asal ke sampin (kayak anime). Lalu baju hitam polosnya di padu dengan cardigan merah. Rena memakai rok 5 jari diatas lutut berwarna merah tartan dan stoking hitam. “Emang lo gak cantik?” tanya rena. “Lo bahkan lebih dari cantik” lanjutnya. Kali ini aku memakai shortdress berwarna hitam. Rompi kulit berwarna merah dengan kerut dibagian belakang dan dua lengan bagian atas. Rambutku ku biiarkan tergerai lalu ku hiasi jepitan dengan hiasan tiara yang manis.“Apa ini gak terlalu berlebihan?” tanyaku. “menurutku gak” ucap Rena. “Oke, yok kita ke kamar mereka” ucapku. “yok”

------------------------------

“Wehh!! Gilakk! Kita kedatangan dua bidadari cantikk!” ucap Rio gombal. “Gilee, lo bedua cantik bangett” ucap Ray. “Dah.. dahh.. ntar mereka ngeflower berlebihan” ucap Cobey. Dia bahkan belum melirikku. Sedikitpun. Aku terpaku melihat Rio. Dia terlihat keren degan kemeja kotak2 hitam putihnya. Dipadu denganjaket kulit merah yang dinaikkan sebatas siku.

“Ready?” tanyaku. “Of course” jawab mereka serempak. “Here we Go” ucapku.

---------------------------

Sesampainya ditempat lomba ternyata lomba sudah dimulai. Kami meminjam mobil sekolah dengan cobey yang menyetir. Aku duduk di jok depan dengan alasan Cobey bukan supir, jadi gak pantes kalo ber-4 di jok belakang semua. Dan mereka tertawa.

Setelah mengambil undian dan membukanya, kami melihat angka tiga tertera disana. “Eh, ini dah yang keberapa yang maju?”tanyaku kepeserta lain. “2” jawabnya. Sedikitpun tidak ramah. “oh, makasih” ucapku. Bergegas menyalakan laptop. Kami maju setelah ini,  aku bahkan tidak deg degan seperti biasanya. Gak tau ke-4 temanku. Yang jelas aku biasa2 aja.

Aku berbicara sebentar dengan panitia untuk memakai LCD (seperti yang direncanakan) dan,, “Let see! A great perfomance from COLORFUL SHADOW!!” ucap sang MC. Kami maju dan menempatkan diri di instrument masing2. Slide baru akan ditampilkan kedua dimulai. “Ready guys?” tanyaku kepada personil colorfull shadow. Lebih pada diri sendiri. Tapu banyak audiance yang mengangguuk. ‘oke Elena, show your best! Now!’ batinku. “music on!’ ucapku,, memberi komando. Musiknya pun mulai.

 “Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street
Faster than the wind, passionate a sin ended so suddenly
Loving him is like trying to change your mind once you’re already flying through the free fall
Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all” nyanyiku.

Ini lapangan terbuka. Jadi aku bebas mengeluarkan suaraku.

“Losing him was blue like I’ve never known
Missing him was dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red
Loving him was red”

Nyanyiku bersemangat. Audience memandang kami. Peserta lain melirik kami sinis. Juri, eh? Kok aku gak liat juri? Sekarang gw harus fokus. Entar malah lupa lirik.

“Cuz love was like driving a new Maserati down a dead-end street”

Nyanyiku menyudahi. Audience tepuk tangan. Aku melirik Ray. Maksrudnya minta tolong untuuk menyalakan slidenya, “one... two.. three.. Now!” ucap Ray, mengaba2.

“Yeah, we’re colorfull shadow from Knowing Melody Boarding School, hope you all enjoy our music” ucapku memperkenalkan. Slide sudah berpuar.

“You’re on the phone with your girlfriend
She’s upset,, she’s going off about something that you said,,
That she doesnt, get your humor like i do”

Ucapku berjalan mengikuti musik ke arah Rena.

“I’m in the room its a typical Tuesday night
I’m listen to the kind of music she doesnt like
That she’ll never know your story like i do”

Ucapku berjalan lagi menuju Rio. Kata misss Ferandra saat tampil udahakan kita bisa menguasai panggung.

“that she war short skirt” aku menunjuk Rena.
“I wear t-shirt” ucapku sambil memegangi baju Cobey yang kebetulan ada disitu.

“She’s cheer captain and i’m on a bleachers
Dreaming bout the day when  you wake up and find
That what your, looking for
Has been here to whole time..”

Nyanyiku menarik nafas, mengambil nada yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

“If you could see that i’m the ine
Who understand you
Been here long along so why can’t you see?
You belong with me..
You belong with me..”
Nyanyiku. Sambil mengajak audiance menyanyi.  

“But she wear high heels
I wear sneakers” ucapku sambil menunjuk sepetu cats merahku.
Sambil terus bernyanyi aku berjalan ke tengah panggung.
 Dan.. ini dia bagian yang paling aku suka

“ Standing by and waiating at your back door
All this time how could you not know baby?
You belong with mee...
YOU BELONG WITH ME” nyanyiku menyelsaikan. “Thank you” ucapku. Meletakkan microphne lalu turun diikuti teman2ku.

Setelah merapikan laptop dan duduk kembali, aku melihat Cobey memaikan hp ku. “Hey! Hape ku! Balikinn” ucapku. Yah, mana enak pcaran ngomongnya pake lo gw. “ya udah sih, you’re my girlfriend,, salah?” tanya cobey. Aku diam. Lalu melirik Ray ang menyerit bingung, lalu tersenyum  puas.
“Na” panggil Ray. Dia menatap mataku. ‘gw bersyukur lo pacarannya sama Cobey. Bukan sama yang lain. Selamat ya’ucapnya. Aku membaca itu dari matanya. “selamat ya?? PJ nya” ucap Ray. “Oh, hahaha.. minta Cobey aja. Gw mah korot” ucapku sambil menyenggol lengan Cobey. “ Eh? Berarti gw jomblo sendiri nih?” tanya Ray cemberut. “Kita kan tetep sahabatan Ray” ucap Rio memberi semangat. “ Tuh, liat cewek disana cantik2” ucap Rio yang langsung disenggol Rena. Kami tertawa lagi.

-------------------------------------

“Yeah! Keren sekali bukan penampilan tadi? Sekarang adalah saat untuk mengumumkan pemenang!” ucap MC. “Juri pasti sudah memilih yang terbaik dari yang paling baik. Bagi pemenang harap ditingkatkan dan bagi yang belum menang, jangan berkecil hati. Kebanggaan Bangsa masih ingin bertemu kalian tahun depan” ucap MC. Biasa... basa basi.

“Well, juara tiga dari lomba ini adalahhh.... Jumped Band!” ucap MC. Audiance tepuk tangan. “Harap maju ke depan” tutur sang MC. Eh? Kok mendadak kebelet pipis ya? “All, gw ke toilet dulu ya?” ucapku meminita izin. Mereka mengangguk. Aku pergi mengikuti tulisan ‘TOILET’ yang digantungkan di langit2. Dari sini tidak terdengar suara apapun. Nyesel aku ke kamar mandi pas kayak gini.

-------------------------------

“Gimana? Menang gak?” tanyaku kepada keempat sahabatku, sekembalinya dari toilet. Wajah mereka biasa saja. Gak sedih. Tapi juga gak senang. Mmh?  Apa kami kalah? Lalu mereka nyebunyiin kesedihan dengan tampang polos tanpa ekspresi begitu? “Hey?? Jawab!!” paksaku. Sepertinya hipotesa ku bener deh, kalo kami gak menang. Buktinya mereka masih tetap diam -___-“

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, well, well,, sampe sini dulu yaahh temen2,,
Gmn ya? Menang gak? Mnurut kalian menang gak?
To be continue