guys, gw nulis puisi dulu aj yak? dah lama gk nulis puisi
--------------------------------------------------------
Hujan berderai dalam tariannya,
mengajak dingin berlari dalam peluknya
menata cerita dalam relung tak bertuah
kelabu langit meminta tuk berpikit biru...
kemana lagi hati suci berlabuh?
kemana lagi cinta tulus bersatu?
Genangan hujan berayun-ayun
menupas lara pun mengajak tertawa
beningnya mengajak bercermin
Paras yang bagaimana lagi yang diperlukan?
yang diperebutkan oleh wanita-wanita kebanyakan?
sampai-sampai membuang jati diri...
membuang puing-puing kesucian dalam hati..
sifat seperti apa lagi yang diinginkan?
yang membuat wanita-wanita menjadi bunglon
sampai-sampai lupa pada siapa dirinya
membuang sisa-sisa sifat yang melekat
hembusan angin merayuku untuk lebih berpikir
kemana wanita-wanita hebat yang memeluk buku?
yang dengan senyum mengais halaman demi halaman bukunya
kemanakah wanita-wanita bahagia itu?
yang tertawa lebar dalam linangan ilmunya
lalu kenapa muncul wanita yang berfoya-foya?
yang tak pernah tau tujuan hidup sesungguhnya
yang selalu bergele]ut manja dengan pakaian mahalnya
yang tak pernah mematut diri
merek menarikan kata-kata untuk menarik hati
sampai lupa siapa yang sebenarnya menuasai bumi
lalu mengapa muncul wanita-wanita sombong?
yang dengan sengaja membeli barang yang tak perlu
yang tak punya nilai guna
yang mengabaikan dunianya sendiri
lantas,
mengapa mereka masih hidup?
mengapa mereka dibiarkan berkeliaran?
mereka yang sekolah saja tidak mau
mereka yang mengeja saja merasa jennuh
mereka yang mengabai ilmu
yang meninggikan kecantikan diri
tetes demi tetes hujan menyapu wajahku
mengajak tuk mengadahkan tangan
Tuhan,
Mengapa tidak Engkau binasakan saja mereke?
yang gemar berfoya-foya,
yang sombong dengan hartanya
lalu senandung dingin mengingatkanku
tidakkah aku akan ikut binasa?
akan perbuatanku sendiri
yang ku tau,, keduanya berlawanan
Senin, 27 Mei 2013
what the hell?
ngepost ceritanya libur dulu yaah?
capek ngetik :p
ini el cman mw share foto2 aja
---------------------------------------------------
Ini adek dan adek spupu gw,, lucu kan? kembar tuh dua2nya,, oke gw kenalin satu. yang paling pojok sebelah kanan namanya luni, itu adek gw. sampingnya kalo gak Iona ya Iola,, sorry gw gk hapal. terus sampingnya lagi ya kalo gak Iola ya Ion *sama aja* naahh yang makan jagung banyak gaya satu itu namanya Luna,, kembarannya luni dan luni kembaranya luna *yaiylahh*
---------------------------------------------------------------------
nahh kalo ini ada penampakannya *kabbuuuuurr*
hahaha,, itu yang baju putih adek gw, namanya Deaz. paling beda deh dia,, (maap ya dek) Deaz itu adek gw, kakaknya luna luni, nah gw kakaknya deaz dan luna luni itu adek gw,, #apaan sih lo sya gaje amat --"
--------------------------------------------------------------------
nahh itu yang mukanya gak keliatan adek spupu gw,, anaknya emang malu2 marmut gitu. namanya ghina. ghina ini cuman beda satu tahun dari deaz. dia kakaknya iona iola yang cuman beda satu tahun dari luna luni. dan kakaknya ghina juga cuman beda satu tahun dari gw --",, jadi kesannya kayak kejar2an gtu deh,,
dan yang paling mengenaskan,, gw adalah manusia yg paling tua diantara semua sepupu2 gw --" #ngenes kan? kasih balon don :p
udah ya? sampek sini aja,, maklum lg males nulis jadinya yaa,, nulisnya awut2an,, ini cuman buat yang kangen banget sama gw,, hahahahaha
dah ye? gw mw kabu r dulu sebelim dibunu rame2,,
kkkkkkkkkkkkkaaaaaaaaaaaaaaaaaabbbbbbbbbbbbuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
capek ngetik :p
ini el cman mw share foto2 aja
---------------------------------------------------
Ini adek dan adek spupu gw,, lucu kan? kembar tuh dua2nya,, oke gw kenalin satu. yang paling pojok sebelah kanan namanya luni, itu adek gw. sampingnya kalo gak Iona ya Iola,, sorry gw gk hapal. terus sampingnya lagi ya kalo gak Iola ya Ion *sama aja* naahh yang makan jagung banyak gaya satu itu namanya Luna,, kembarannya luni dan luni kembaranya luna *yaiylahh*
---------------------------------------------------------------------
nahh kalo ini ada penampakannya *kabbuuuuurr*
hahaha,, itu yang baju putih adek gw, namanya Deaz. paling beda deh dia,, (maap ya dek) Deaz itu adek gw, kakaknya luna luni, nah gw kakaknya deaz dan luna luni itu adek gw,, #apaan sih lo sya gaje amat --"
--------------------------------------------------------------------
nahh itu yang mukanya gak keliatan adek spupu gw,, anaknya emang malu2 marmut gitu. namanya ghina. ghina ini cuman beda satu tahun dari deaz. dia kakaknya iona iola yang cuman beda satu tahun dari luna luni. dan kakaknya ghina juga cuman beda satu tahun dari gw --",, jadi kesannya kayak kejar2an gtu deh,,
dan yang paling mengenaskan,, gw adalah manusia yg paling tua diantara semua sepupu2 gw --" #ngenes kan? kasih balon don :p
udah ya? sampek sini aja,, maklum lg males nulis jadinya yaa,, nulisnya awut2an,, ini cuman buat yang kangen banget sama gw,, hahahahaha
dah ye? gw mw kabu r dulu sebelim dibunu rame2,,
kkkkkkkkkkkkkaaaaaaaaaaaaaaaaaabbbbbbbbbbbbuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
You Belong With Me #part 3
hai halo hi :)
ini dia lanjutannya,, enjoy it!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Loh? Elena? Ngapain lu disini? Dicariin daritadi. Kan gw dah bilang gaki boleh ngaret!” ucap Ray yang tiba2 muncul dari balik hujan (ternyata yang nyanyi tadi si Ray). “Sorry Ray, gw lagi pengen liat hujan” ucapku. Berbohong memang. “Hahaha... lu bisa bohong juga ya? Elena... Elena... gw tau lu gak suka hujan. Sama sekali gak suka” ujar Ray sambil tersenyum miring. Well, aku kaget. “Loh? Lo tau darimana Ray? Kok lo bisa ngomong kayak gitu sih?!” ucapku keget. Merasa ada rahasiaku yang terbongkar. Rahasia ini hanya aku yang tau. Lantas? Ray? “Lo pernah bilang kalo lo jago akting. Semua juga ngakuin lo sebagai miss akting. Well, gw beda. Lo sama sekali gak bisa akting. Mata lo gak ikut ngomong” ucap Ray sambil memalingkan wajah ke arah hujan. Aku diam. Ray juga diam.
“Na, nyayi yok?” ajak Ray. “Ray, lo lagi galau?”tanyaku. “Kok tau?” ujar Ray.
“Mata lo”
“Hahaha, tau aja lo”
“Kenapa? Kita kan sahabatan. Jadi lo harus cerita!”
“gak papa”
“Unbelievetable! Gak mungkin lo galo tanpa sebab Ray”
“Rahasia ya tapi?”
“Pasti, Cuma kita berdua?”
“Berempat”
“gw, lo, rena, rio?”
“Bukan, gw, lo, Allah, Malaikat”
“Hahaha, ayo dah buruan cerita”
“Oke, Rio nembak Rena
Raut wajah Ray berubah seketika. Mood ku juga. “Lu naksir Rena?” tanyaku perlahan. “I don’t know” jawab Ray. “Gw cuman ngerasa sakit aja pas mereka jadian. Apa persahabatan kita gak ancur entar? Kita dah bareng selama 3 taon, kalo mereka mutusin buat keluar dari band, kita bubar dong!” ucap Ray dengan raut wajah datar. ‘God! Rena dan Rio lagi, Ya Allah, apa aku harus membenci mereka?’
“El, nyanyi yok?” ajak Ray. “Apa? El? Tumben lo manggil gw El” ujarku. “Skali2. Ayo nyanyi” Ajak Ray lagi. “Yok” ucapku. “Lo duluan” lanjutku.
“Ku tuliskan kesedihan...
Semua tak bisa kau ungkapkan dan cinta kan bicara, dengan hatimu” mulai Ray.
“Buang semua puisi antara kita berdua, kau bunuh dia sesuatu yang ku sebut itu cinta” lanjutku. Aku reflek berdiri. Bernyanyi bersama hujan.
“Yakin kan aku Tuhan, dia bukan milikku, biarkan waktu, waktu hapus aku...”
“Sadarkan akuu Tuhaan..
Dia bukan milikku, biarkan waktu, waktu, hapus aku” Ray yang nyanyo berdiri disampingku.
“Hahaha... udah kayak orang gila kita nyanyi2 gak jelas” ucap Ray. “Balik yok? Dah malem” lanjutnya. “Puisi kontemporernya gimana?” ujarku bertanya. “Dah kelar kok. Yok” ajak Ray. Aku menurut.
-------------------------------------------------------------------
“Ren! Bangun!” ucapku membangunkan Rena yang asih lengkap dengan alat tidurnya. “Jam berapa ini?” tanyanya setengah sadar. “Jam 6” ucapku. “Yah, makasih yah dah bangunin gw” ucapnya sambil begegas mandi. ‘Kok badanku lemes ya?’ batinku. ‘Ah tidur bentar ah, pusing’ lanjutku masih membatin lantas tidur.
----------------------------------------------------------------
“Loh? Gw dimana?” tanyaku setelah terbangun. “El? Lu sakit. Jadi gw sama yang lain bawa lo ke clinic” ujar seseorang. “Lah terus? Contemporer poem gw gmana? How about it?” seruku kaget. Keinget Bu Rianna tidak memberikan toleransi tugas apapun termasuk pada murid yang sakit. “Aissh, nih anak udah sakit, pake mikir ntuh lagi” ujar Rio. Seseorang yang menemaniku (mungkin) daritadi.“Hah?! Enak aja lo ngomong” ucapku setengah ngambek. “Wess, nyante mbak bro! Tadi tugas lo udah gw kumpulin. Lu tenang aja biar cepet sembuh” ucap Rio berceramah.
“Oia, diluar hujan, lo mau liat hujan gak, El?” tanya Rio. Oke. Rui berhasil membuat aku bingung. Liat hujan gak ya? Kalo aku lihat hujan berarti sama aja aku bernostalgia dengan masa lalu ku yang suram. Tapi kalau aku tolak, apa aku gak ngerusak kesenangannya rio ya? “El? Gimana?” tanya Rio.
“Elenaa? Eh, Smolekom? Elena dah sembuh beklon? Dah baikan?” tanya Ray yang langsung masuk dengan bejibun pertanyaan. “Pelan2 Ray. El kan lagi sakit” ucap Rio. “Eh ada elo Yo. Baju gw basah nih. Minjem jaketlah, dingin” ujar Ray takmenggubris ucapan Rio yang tadi. “Tuh, gw bawa dua. Satunya di tas yang diatas meja. Ambil aja” Ujar Rio. Ray lalu mengambil tas dan memakai jaketnya.
“Gimana El? Mau gak?” tanya Rio lagi. “Mau apaan sih?” tanya Ray ikut campur. “Liat hujan” ucap rio setengah bt. Yang ditanya siapa yang jawab siapa. “Ohh” respon Ray. “Eh! Elena gak boleh keluar. Di luar dingin. Entar tambah sakit” ujar Ray. “Iya kan Na?” lanjut Ray. Aku hanya diam. Cuma menatap ray dengan tatapan ‘makasih’. Wait, ray bales natep, seperti bilang sama2. Ray diam. Rio diam. Aku diam. Penulis diam. Pembaca diam gak? *oh ya, lupakan*
Tiba2 Rio bersuara. “Bentar ya all. Gw jemput Rena dulu. Kasian entar kehujanan” ucap Rio. “Entar gw ajak Rena kesini kok. Ray, jaga El ya” lanjut Rio saambil beranjak. “Bye” Rio keluar.
“Makasih ya?” ucapki ke Ray. “Bukannya tadi lo udah bilanh makasih?” tanya Ray. Aku menatap Ray dengan tatapan binguung. “Na.. Na.., lu tau gak? W bisa baca mata orang. Dan gw yakin kalo lo juga bisa. Buat ngetes elo beneran bisa ato gak, coba tebak gw ngomong apa lewat mata”. Ray lalu menatapku.
‘Lu sakit pasti gara2 hujan2an semalem kan?’
‘maybe?’
‘jangan maen hujan lagi ya?’
‘tapi?’
‘inget, lu jelek kalo sakit’
“Hahh, sialan lo. Hahaha.. kok bisa gitu sih Ray?” nyeplos. “Nah, karna lo bisa. Lo bisa cerita apa aja ke gw dengan tatapan mata lo. Okey?” ucap ray.
Kkreeeekk *Anggap suara pintu
“Eleneee!!! Lo kok bisa sakit gini sih? Gak ngajak2 gw lagi sakitnya” ujar Rena yang langsung nyelonong masuk. “Rena! Elu siihh!” ucapku latah. “Kann, lo ngelatahin gw lagi!” ucapku linglung. Rena hanya nyengir. “Hehehe, eh brarti entar malem gw tidur sendirian gitu dikamar?” tanya Rena. “Haahahaha,, ajak Rio aja Na” ucapku bercanda. “Eh apaan Rio2?” tanya Rio yang tadinya asik melihat hujan lewat jendela. “Idiih, ogah gw tidur sama dia” ucap Rena. “Gw juga ogah tidur sama kamu Na” balas Rio. “Ya udah” jawab Rena nyolot.
Aku menatap Ray. Merasa berisik. “Udah ah kalian tuh! Ada orang sakit malah berisik. Kasian Elena tau!” ujar Ray setelah ngeliat tatapanku. “Eh sorry Elena, gw gak maksut. Rio sih ngajak ribut” ucap Rena. “Njehh kamu ngambing hitamin aku mulu deh!” ucap Rio. “Eh gw balik duluan ya?” lanjut Rio pamit. “Bye” ucapnya sambil melangkah keluar.
Tiba2 ray natep aku. ‘Lo istirahat ya? Entar gw ijinin Rena biar bisa nginep disini’ ucapnya melalui tatapan mata. ‘ya, makasih ya’ balasku. Ray mengangguk. “Gw balik ya?” ucap ray sambil melangkah keluar.
Setelah beberapa menit Ray balik lagi. “Ren, lu boleh nemenin Elena disini” ucapnya. Lantas berbalik lagi. “Yey! Gw gak jadi tidur sendiri!” ucap Rena setelah lepas dari kebingungannya. “Ya udah, lo istirahat dulu ya. Gw mau lihat anak dua itu, beneran pulang ato gak” lanjut Rena. “Sip” jawabku
----------------------------------------------------------------
“Na, gw ke sekolah dulu yak” bisik Rena tepat di samping telingaku. Aku sih pingin melek. Tapi mata gak bisa diajak kompromi. “Smolekom” ucapnya lalu terdengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup kembali. Dengan sedikit paksaaan akhirnya mayaku bisa dibuka juga.
“Pagi cantik, waktunya sarapan dan minum obat” ucap Kak Alda yang mungkkin bertugas sebagai penjaga clinic. “oke kak”. “gw suapin ato lo makan sendiri?” tanya kak Alda. “Sendiri aja kak” ucapku sambil mengambil mangkuk yang dibawakan oleh kak alda.
#TRAANGG#
Mangkuk kaca berisi bubur yang diibawakan ka alda jatuh dan pecah.
“Lu kenapa na?” tanya kak alda panik
....
--------------------------------------------------------
Sampe sini dulu ya?
Weehh, kira2 kenapa ya si Elena? Kok mangkuknya bisa jatuh ya?
To be continue :p
You Belong With Me #part 2
hi guys? el nyelsain yang you belong with me dulu aja ya?
soalnya kan tinggal nyalin dari tulisan tangan, oke?
yang kangen sama Mathilda, Marley ato Adelard ditahan dulu ya,,
and here the story!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"El, jam 7 di bukan ngesok" ucap Rio berbisik di telingaku, dan langsung pergi. "Ren, balik juga yok. mansi" ucapku. "yok" jawab Rena.
Sesampainya di kamar aku mandi duluan, sedangkan Rena sedang sibuk memikirkan puisi sepertu apa yang akan ia buat nanti. Setelah mandi aku melirik sekilas ke arah jam. 18.30. "What?! its cepat sekali, duh... Rio mau ngapain lagi?" ujarku sibuk sendiri. akhirnya aku berpakaian biasa2 saja. Dress selutut yang didominasi warna ungu dan putih, fantovel violet dan bandana putih yang dihiasi titik2 violet.
Setelah siap2, aku melihat jam, pukul 18.50. Sepuluh menit lagi. "Wew, cantik amat neng, mau kemana?: ujar Rena tiiba2. "Hah?! iya cantik sekali, tau kok!" latahku. "Ih elu bikin gw latah mulu ah ren! nih gw mau ke bukan ngesook, laper" jawabku. "Ooh, ke bukan ngesok pake cantik2 segala ya?" ucap Rena, masih memperhatikanku. Aku seketika melihat penampilanku. "Lah? gw kan gayanya emang gini2 aja kan? paling juga bedanya pake celana" ujarku bingung. "Lu cantik, klo pake ungu" ucap Rena. "Ew? lu mau muji atau mau ngejek?" ujarku bercanda. "Ngejek.. ya muji lahhhh" ucap rena. "Udah ya? gw mau berangkat. byeee" ucapku jalan keluar. "Ati2 loo" ujar Rena setengah berteriak.
--------------------------------------------------------------------------------
“El! Sini!” panggil Rio yang sudah duduk dengan santainya. Setelah menemukan asal suara, akhirnya aku melangkah kesana. “Sorry gw telat” ucapku tanpa melirik jam. “Lu tepat waktu. Sekarang 19.00 neng!” ujar Rio ambil mempersilahkan duduk. “Mau pesen apa? Gw bayarin” tawar rio. “Hahha,,, gaya bener lu! Tadi katanya lagi kere” candaku. Rio hanya nyengir. “Ya udah, samain aja sama lo” lanjutku.
“Waiterr!” panggil Rio.
“What can i do for you, sir?” tanya waiter
“2 plates of spagethi, 2 plates of roasted potato, and2 glasses of bathida bacca bretha”
“I’ll repeat again. 2 plates of spagethi, 2 plates of spagethi, 2 glasses of bathida bacca bretha. Anything else?”
“Nothing”
“Wait a minute”
“Of course. Be hurry”
“Yes, sir”
“Mau ngomongin apa yo? Tumben” ucapku memulai obrolan. “Entar aja sambil makan” dengan wajah misteri *ceiileee*. Oke, sekarang adrrenalinku terpacu. Sialan nih orang. “Lu kenapa el? Kok merah?” tanya rio sambil tersenyum.Yap! Cuma rio yang doyan manggil aku dengan sebutan ‘El’.”What? Merah? Apa yang merah?” ujarku gelalapan. “Wess, muka lo merah” ucapnya masih tersenyum. Senyum mengejek tepatnya. “Mana ada merahh!” ucapku masih gelalapan. “Malu ya makan sama orang cakep kayak gw?” goda Rio. “Najis” jawabku reflek. ‘God can anybody help me?’ batinku.
Tepat setelah aku batin seperti itu pesanan datang. “thanks” ucap Rio. “Ayo el, dimakan” ucap rio mempersilahkan. “Pasti gw makan kok, mau ngomongin apa?” tanyaku memasang muka sok penasaran. “Sambil dimakan” ujar Rio. Oke, mukanya maksa banget nyuruh makan. Aku mengambil roasted potato dan melahapnya perlahan.
“Jadi gini el, gw mau minta pendapat” Rio memulai pembicaraan yang seharusnya dia mulai daritadi. “Pendapat apa?” ujarku santai, asik dengan roasted potato ku. “Menurut lo, gimana kalo gw nembak Rena?” tanya Rio perlahan. “hukk..hukk” aku tersedak. “Apaan yo? Lo mau nembak rena?” ucapku tanpa sadar. Kaget. “Iya, nembak rena. Kenapa?” tanya rio bingung.
Oke, aku gak bisa ngendaliin diri. Semua diluar dugaan. Dari awal masuk Knowing Melody dan kenal Rio aku udah ada rasa ke dia. Sekarang? Dia mau nembak rena? What should I do? Rena sohibku dari kecil, dan masih bau kencur. Nggak mungkin aku nyakitin dia.
“El?” tegur Rio melepas lamunanku. ‘Ayo Elena, lo bisa ngendaliin diri’. Setidaknya aku masih bisa bernafas saat ini. “Mmh? Gw sih setuju aja sama pemikiran lo yo. Kayaknya nih ya, si rena juga ada rasa sama lo. Kapan rencana lo nembak dia?” tanyaku terpaksa. Adrenalinku berhenti terpacu. Jantung berhenti berdebar. Darah berhenti berdesir. Sekarang yang ada hanya air mata yang memaksa keluar. “Kayaknya nanti pas kita ngumpul di belakang asramah 3” ucap Rio. Matanya berbinar senang. “Wahh,, bakalan asik tuh. Semoga rena nerima ya” ucapku sambil memaksa senyum.
Air mataku sudah hampir tumpah. Aku mencari sesuatu yang bisa menngelluarkanku dari Bukan Ngesok. Nafsu makanku hilang. Roasted potatonya baru ku makan sedikit. Bathidanya baru ku minum sedikit. Sedangkan spagethi belum ku sentuh sama sekali. “Ayo lanjutin makannya” ujar Rio dengan senyum. “Wah, sayangnya nih ya, gw lagi diet. Eh lagian kan 15 menit lagi kita ngumpul. Artinya 15 menit lagi lu bakal nembak Rena. Lo gak mau siap2 biar lebih keren gitu?” tanyaku hanya beralasan. “Ya udah, Elena selalu punya alasan untuk segala hal” ucap Rio lalu berdiri. Aku juga berdiri dan jalan mendahului Rio. “Yo, duluan ya? Ada yang mesti gw lakuin” ucapku sambil berlari meninggalkan Rio. “Ya, duluan aja” ucap Rio.
Aku semakin berlari. Bandana Violetku putih kesukaanku entah sudah terjatuh dimana. Rambutku sudah berantakan.Sedangkan kakiku sudah tak kuat lagi untuk berdiri lebih lama. Aku terduduk, lemas. Air mataku sudah jatuh daritadi.
“If you could see that i’m the one who understand you, been here all along, so why can’t you see? You belong with me” nyanyiku tanpa sadar. Aku yang lebih dulu kenal Rio daripada Rena. Aku yang yang jadi tempat Rio bercerita tentang segala hal. Tapi kenapa Rena? Kenapa Rena yang Rio pilih?
Tes... setetes rintik hujan terjatuh ke wajahku. Diikuti tetes2 yang lainnya. “Hujan..” ucapku lirih. Aku tak suka hujan. Berbeda dengan Rio dan Rena. Apalahi Ray, dia bakal dengan semangat bermain-main dengan hujan. Aku gak mau mereka kasihan sama aku gara-gara nggak bisa main hujan. Yah, aku selalu berusaha untuk berpura-pura suka dengan hujan.
“Kembalilahh...
Pada dirinyaa, biarku yang mengalah...
Aku terima, cinta begini”
Hah? Siapa itu? Siapa yang nyanyi di tengah hujan begini?
“Loh? Elena? Lu ngapain disini? Dicariin dari tadi. Kan gw udah bilang gak boleh ngaret”
-----------------------------------------------------------------------------------------
Guys, sampe sini dulu ya?
Siapa ya yang kira2 muncul ditengah hujan itu? Tunggu lanjutannya ya!
Sabtu, 25 Mei 2013
You Belong With Me #part 1
Hi guys...
ini el mau ngepost cerita yang beda,, gpp kan?
bukan buka.. ini bukan cerita baru, ini cuma masukin cerita yang udah pernah el tulis di buku.
cuma berharap ini sebagai penghapus kangen *hahaha*
well, enjoy it
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Stop and stere..
I think i move but go no way!" nyanyiku sebagai vocalis band. "Stop..stop! Na! Lu ngapa sih? kok kayaknya nggak semangat gitu?" Rio memutuskan. "Iya Na,, lu kenapa sih? ada masalah?" Rena menimpali. "Kayak gw dong ngedrumnya fokus" ucap Ray sambil asik memainkan stik drumnya. "Sorry all, hahaha...."balasku tertawa. "Cuma agak gak mood nyanyi aja" jawabku. "Laper..." lanjutku kemudian setelah semua benar-benar diam. "Jhiiiaaahhh elu, Elena.... Elenaa.. ayo gw traktir" ucap Rio sambil meletakkan gitar yang dipangkunya ke tempat semestinya. "Yakin lo? sumpah? demi apa?" tanyakku ragu. Jarang-jarang Rio mau mentraktirku.
"Elena doang nih? gw juga laper loh..." sindir Ray lalu bangkit dari tempat duduknya. "Iya ya Ray, kita nggak ditraktir coba?" timpal Rena sambil merangkul Ray. " Alay lu pade.. Nyok gw traktir semua dah.. mau makan dimana?" jawab Rio merasa tersindir. "Di hatimuu.." jawabku, Ray, dan Rena hampir bersamaan. "Yo? hahaha.. pada ketularan Elena nih" ejek Rio sambil tersenyum nakal. Ya, biasanya memang aku yang paling sering bilang seperti itu.
Oia, aku lupa. Kita belum kenalan ya? kenalin aku Elena Carlson. Papaku berasal dari Australia dan mama berdarah asli betawi. Dari cara bicaraku bisa dipetik kalau logatnya betawi dan disempil-sempilin inggris australia gitu. Hahaha...
Aku punya band, namanya Colorfull Shadaw. Sudah dibentuk dari awal aku masuk Music Boarding School ini. Sekolah berasramah yang bernama Knowing Melody High School. Sekarang aku duduk dibangku kelas 3 SMP. Aneh ya? sekolah ini memiliki 3 rumah makan kecil. Ada RM yang khusus makanan luar negri, khusus makanan khas betawi, dan khusus snack2 gitu.
"Eh, Rio! makan di doyan laper aja yok?" ajak Rena. "Right! suka banget gw disitu!" ucapku. Menyetujui makan di RM yang khusus makanan betawi. "Gw mah ngikut kalian aja"' ucap Ray yang udah lapar daritadi. Rio cuma mangut2 lega. Selain makanan di doyan lapar enak, harganya jyga terjangkau. sesuai sama kantong anak bau kencur kayak kita.
---------------------------------------------------------------------------------------
" Ketopraknya 4, cimol 3, batagor satu, sama....."
"Minumnya es teh aja mpok! 4 gelas!" ucap Rio memotong ucapanku. "Wehh yo, belom selese gw ngomong!" ucapku protes. "Sadis lu yo, sapa tau Elena nemu menu yang enak lagi" bela Ray. "Kanker gw bro! entar kalo lagi tebel gw jajanin di bukan ngesok dehh. gmn?" janji Rio. " Awas lu kalo bohong!" ancam ray. "Kalau Rio bohong, gw ceburin di selokan belakang asramah" lanjutku. "Lah? emang gw janjiin elu Na? GR lu" ucap Rio sambil tertawa. "Aseem lu yo" ucapku sambil siap2 menjotos rio yang asik2nya terbahak.
Namun sangat didisayangkan, mpok2nya sudah datang membawa 4 gelas teh dan 4 piring ketoprak. "Mpok jangan lupa cimolnya ama batagornya ye!" ucap Ray mengingaatkan. Tau kenapa tadi aku cuma memesan 3 cimol? haha, itu si Rena alergi cimol, nah sebagai gantinya makanya ku pesankan batagor. Mpok2nya cuma mengangguk sambil tersenyum "Oia Mpok! Satu lagi" ucap Ray saat mpoknya mau balik. "apaan?" tanyanya seraya berbalik. "Gak pake lama ye?" ucap Ray. "Siap bos!" ucap mpoknya seraya ngeloyor pergi.
Sedetik setelah ketopraknya habis, cimol dan batagornya datang. "Lama bener mpok" protes Ray. "Buju dah lu ntong,, baru aje 5 menit udah protes aje" jawab si mpok. "we're so sorry mpok. ini nih si ray emang doyan protes" ucapku minta maaf. "Iye gak pape dah" ucap si mpok. "eh mpok balik dulu ye, pesananye bejibun noh" ucap si mpok yang langsung ngeloyor pergi. "Aje gile tuh orang, ngeloyor aje" ucap Rio. "Ah sebodo gila, gua mah mau makan lagi" ucap Ray sambil mengambil cimol.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah semua selesai makan dan Rio sudah membayar, colorfull shadow kembali ke studio (ceilee, sok2 an bilangnya studio). "Ayo latihan lagi! dah pada kenyang kann? Harus semangat!" ujar Rio sesampainya di studio. "Ayo mulai!" seru Ray. Rena mulai memainkan keyboard. Yap! lagu kesukaan ku dan Rena. Rio yang merasa tau lagunya mulai memaikan musik juga.
"You’re on the phone
With your girlfriend
She’s upset
She’s going off about
Something that you said
She doesn’t get your humor
Like I do"
ucapku memulai. Entahlah, aku menyukai lagu taylor swift yang satu ini juga yang berjudul speak now.
"I’m in my room
It’s a typical tuesday night
I’m listening to the kind of music
She doesn’t like
She’ll never know your story
Like I do
But she wears short skirts
I wear t-shirts
She’s cheer captain
And i’m on the bleachers
Dreaming about the day
When you wake up and find
That what you’re looking for
Has been here the whole time"
Lanjutku lagi. Sesayup ku dengar Rena juga bernyanyi.
" If you could see
That i’m the one
Who understands you
Been here all along
So why can’t you see?
you belong with me"
" you belong with me" Rena ikut menimpali. Rio juga asik dengan gitar dan lagunya. Ray? dia bahkan gak tau ini lagu apa. Tapi hebatnya Rau, dia bisa menyesuaikan timpukan drum dengan musik yang lain. Setelah lagunya selesai, Ray nyelutuk "Woy! kalo mau latian tuh pake lagu yang gw ngerti ngapa? jangan lagu yang begitu!" ucap Ray. Kami pun serempak tertawa melihat wajah cubby Ray yang murung. "Yeee malah ketawa" ujar Ray.
"Eh, balik yok? kita ada tugas kan El?" tanya Rio sambil melihatku. "Ah? emang iya? tugas apaan? kok gw lupa?" ujarku. "Duh pikunnya cewek ini! Itu loh, basindo! Kalo gak salah buat puisi kontemperor, eh apa? konpoteror? ahh tau ahh dark!" ucap rio. Aku dan rio memang sekelas yaitu di 9 violin. sedangkan Ray di 9 drum dan Rena di 9 keyboard. "konteporer kali yo!" ucapku. "Lah? emang tadi gw ngomong ap? kontemporer kan?" ujar Rio membela diri. "Ah elu bilangnya kontemperor" jawab Rio.
"Mossok?" jawab Rio
"Iya juga!"
"Ah masa?"
"Ihh dibilangin iya!"
"bohong pasti!"
"iihh nyebelinn!!" ucapku sambil melet.
"Udah.. udahhh.. gitu doang diributiin" ujar Ray sambil beranjak. "Gw juga ada tugas nih.. dari bu Rianna kan? puisi ya? gw gak bisa bikin puisi nih apalagi puisi begituan" ujar Ray. "Mmmh.. kayaknya nih ya, kita mesti kerjain bareng deh. Itu si Elena kan pinter bikin puisi!" ujar Rena yang merasa memiliki tugas yang sama. "Hah?! elena? kenapa elena? gw kenapa?" ucapku kaget. "Gilee, saking asiknya ngelamun ampe gak denger kita ngomong apa!" ucap Rio nyindir. "Paan sih?" aku bingung dibuat makin bingung sama Rio. "Dah dah,, ntar malem jam 8 kita ngumpul dibelakang asramah 3 ya? jangan lupa dan jangan ngaret!" ujar Ray. "Dah yok balik" ucap Ray.
"El, jam 7 di Bukan Ngesok
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
sampai sini dulu ya? capek, hehe
mmh? kira2 apa ya yang bakal dilakuin Rio ke elena?
penasaran? baca terus yah :*
ini el mau ngepost cerita yang beda,, gpp kan?
bukan buka.. ini bukan cerita baru, ini cuma masukin cerita yang udah pernah el tulis di buku.
cuma berharap ini sebagai penghapus kangen *hahaha*
well, enjoy it
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Stop and stere..
I think i move but go no way!" nyanyiku sebagai vocalis band. "Stop..stop! Na! Lu ngapa sih? kok kayaknya nggak semangat gitu?" Rio memutuskan. "Iya Na,, lu kenapa sih? ada masalah?" Rena menimpali. "Kayak gw dong ngedrumnya fokus" ucap Ray sambil asik memainkan stik drumnya. "Sorry all, hahaha...."balasku tertawa. "Cuma agak gak mood nyanyi aja" jawabku. "Laper..." lanjutku kemudian setelah semua benar-benar diam. "Jhiiiaaahhh elu, Elena.... Elenaa.. ayo gw traktir" ucap Rio sambil meletakkan gitar yang dipangkunya ke tempat semestinya. "Yakin lo? sumpah? demi apa?" tanyakku ragu. Jarang-jarang Rio mau mentraktirku.
"Elena doang nih? gw juga laper loh..." sindir Ray lalu bangkit dari tempat duduknya. "Iya ya Ray, kita nggak ditraktir coba?" timpal Rena sambil merangkul Ray. " Alay lu pade.. Nyok gw traktir semua dah.. mau makan dimana?" jawab Rio merasa tersindir. "Di hatimuu.." jawabku, Ray, dan Rena hampir bersamaan. "Yo? hahaha.. pada ketularan Elena nih" ejek Rio sambil tersenyum nakal. Ya, biasanya memang aku yang paling sering bilang seperti itu.
Oia, aku lupa. Kita belum kenalan ya? kenalin aku Elena Carlson. Papaku berasal dari Australia dan mama berdarah asli betawi. Dari cara bicaraku bisa dipetik kalau logatnya betawi dan disempil-sempilin inggris australia gitu. Hahaha...
Aku punya band, namanya Colorfull Shadaw. Sudah dibentuk dari awal aku masuk Music Boarding School ini. Sekolah berasramah yang bernama Knowing Melody High School. Sekarang aku duduk dibangku kelas 3 SMP. Aneh ya? sekolah ini memiliki 3 rumah makan kecil. Ada RM yang khusus makanan luar negri, khusus makanan khas betawi, dan khusus snack2 gitu.
"Eh, Rio! makan di doyan laper aja yok?" ajak Rena. "Right! suka banget gw disitu!" ucapku. Menyetujui makan di RM yang khusus makanan betawi. "Gw mah ngikut kalian aja"' ucap Ray yang udah lapar daritadi. Rio cuma mangut2 lega. Selain makanan di doyan lapar enak, harganya jyga terjangkau. sesuai sama kantong anak bau kencur kayak kita.
---------------------------------------------------------------------------------------
" Ketopraknya 4, cimol 3, batagor satu, sama....."
"Minumnya es teh aja mpok! 4 gelas!" ucap Rio memotong ucapanku. "Wehh yo, belom selese gw ngomong!" ucapku protes. "Sadis lu yo, sapa tau Elena nemu menu yang enak lagi" bela Ray. "Kanker gw bro! entar kalo lagi tebel gw jajanin di bukan ngesok dehh. gmn?" janji Rio. " Awas lu kalo bohong!" ancam ray. "Kalau Rio bohong, gw ceburin di selokan belakang asramah" lanjutku. "Lah? emang gw janjiin elu Na? GR lu" ucap Rio sambil tertawa. "Aseem lu yo" ucapku sambil siap2 menjotos rio yang asik2nya terbahak.
Namun sangat didisayangkan, mpok2nya sudah datang membawa 4 gelas teh dan 4 piring ketoprak. "Mpok jangan lupa cimolnya ama batagornya ye!" ucap Ray mengingaatkan. Tau kenapa tadi aku cuma memesan 3 cimol? haha, itu si Rena alergi cimol, nah sebagai gantinya makanya ku pesankan batagor. Mpok2nya cuma mengangguk sambil tersenyum "Oia Mpok! Satu lagi" ucap Ray saat mpoknya mau balik. "apaan?" tanyanya seraya berbalik. "Gak pake lama ye?" ucap Ray. "Siap bos!" ucap mpoknya seraya ngeloyor pergi.
Sedetik setelah ketopraknya habis, cimol dan batagornya datang. "Lama bener mpok" protes Ray. "Buju dah lu ntong,, baru aje 5 menit udah protes aje" jawab si mpok. "we're so sorry mpok. ini nih si ray emang doyan protes" ucapku minta maaf. "Iye gak pape dah" ucap si mpok. "eh mpok balik dulu ye, pesananye bejibun noh" ucap si mpok yang langsung ngeloyor pergi. "Aje gile tuh orang, ngeloyor aje" ucap Rio. "Ah sebodo gila, gua mah mau makan lagi" ucap Ray sambil mengambil cimol.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah semua selesai makan dan Rio sudah membayar, colorfull shadow kembali ke studio (ceilee, sok2 an bilangnya studio). "Ayo latihan lagi! dah pada kenyang kann? Harus semangat!" ujar Rio sesampainya di studio. "Ayo mulai!" seru Ray. Rena mulai memainkan keyboard. Yap! lagu kesukaan ku dan Rena. Rio yang merasa tau lagunya mulai memaikan musik juga.
"You’re on the phone
With your girlfriend
She’s upset
She’s going off about
Something that you said
She doesn’t get your humor
Like I do"
ucapku memulai. Entahlah, aku menyukai lagu taylor swift yang satu ini juga yang berjudul speak now.
"I’m in my room
It’s a typical tuesday night
I’m listening to the kind of music
She doesn’t like
She’ll never know your story
Like I do
But she wears short skirts
I wear t-shirts
She’s cheer captain
And i’m on the bleachers
Dreaming about the day
When you wake up and find
That what you’re looking for
Has been here the whole time"
Lanjutku lagi. Sesayup ku dengar Rena juga bernyanyi.
" If you could see
That i’m the one
Who understands you
Been here all along
So why can’t you see?
you belong with me"
" you belong with me" Rena ikut menimpali. Rio juga asik dengan gitar dan lagunya. Ray? dia bahkan gak tau ini lagu apa. Tapi hebatnya Rau, dia bisa menyesuaikan timpukan drum dengan musik yang lain. Setelah lagunya selesai, Ray nyelutuk "Woy! kalo mau latian tuh pake lagu yang gw ngerti ngapa? jangan lagu yang begitu!" ucap Ray. Kami pun serempak tertawa melihat wajah cubby Ray yang murung. "Yeee malah ketawa" ujar Ray.
"Eh, balik yok? kita ada tugas kan El?" tanya Rio sambil melihatku. "Ah? emang iya? tugas apaan? kok gw lupa?" ujarku. "Duh pikunnya cewek ini! Itu loh, basindo! Kalo gak salah buat puisi kontemperor, eh apa? konpoteror? ahh tau ahh dark!" ucap rio. Aku dan rio memang sekelas yaitu di 9 violin. sedangkan Ray di 9 drum dan Rena di 9 keyboard. "konteporer kali yo!" ucapku. "Lah? emang tadi gw ngomong ap? kontemporer kan?" ujar Rio membela diri. "Ah elu bilangnya kontemperor" jawab Rio.
"Mossok?" jawab Rio
"Iya juga!"
"Ah masa?"
"Ihh dibilangin iya!"
"bohong pasti!"
"iihh nyebelinn!!" ucapku sambil melet.
"Udah.. udahhh.. gitu doang diributiin" ujar Ray sambil beranjak. "Gw juga ada tugas nih.. dari bu Rianna kan? puisi ya? gw gak bisa bikin puisi nih apalagi puisi begituan" ujar Ray. "Mmmh.. kayaknya nih ya, kita mesti kerjain bareng deh. Itu si Elena kan pinter bikin puisi!" ujar Rena yang merasa memiliki tugas yang sama. "Hah?! elena? kenapa elena? gw kenapa?" ucapku kaget. "Gilee, saking asiknya ngelamun ampe gak denger kita ngomong apa!" ucap Rio nyindir. "Paan sih?" aku bingung dibuat makin bingung sama Rio. "Dah dah,, ntar malem jam 8 kita ngumpul dibelakang asramah 3 ya? jangan lupa dan jangan ngaret!" ujar Ray. "Dah yok balik" ucap Ray.
"El, jam 7 di Bukan Ngesok
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
sampai sini dulu ya? capek, hehe
mmh? kira2 apa ya yang bakal dilakuin Rio ke elena?
penasaran? baca terus yah :*
Kamis, 23 Mei 2013
This ain't a Fairytale #part 3
"Hey bangun!" ucap seorang yang hanya ku dengar samar. Suara cowok.
"hah? siapa kamu? erangku lalu membuka mata. lalu melirik jam, 01:15 am.
"Hah? gila! siapa yangmembangunkan aku jam segini?!"
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
" Beri tau aku, kenapa mereka berada di disitu jam segini? mengganggu orang tidur saja!" ucapku mengintip kumpulan anak SMA yang menduduki motor masing-masing. "yee, aku tidak tau, tanya saja sendiri!" ucap Marley sambil menjauh."ayolah, kamu ini hantu. mereka tidak akan melihatmu. kamu bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan tanpa ketahuan" ucapku masih membujuknya. "kalau aku masih tidak mau?" ujar Marley.. "Tuhaan, kalau kamu mau membantuku,, kamu boleh ambil chitato dikamarku sepuasmu!" janjiku memelas. Marley menarik kedua ujung bibirnya ke atas. huh dasar..
----------------------------------------------------------------------------
aku masih mondar mandir di kamar, mencari cara agar bisa tetap ke sekolah tanpa dikerjai. Anak2 SMA yang menduduki motor tadi subuh ternyata berniat mengangguku. Ya, mereka genk yang di ketuai oleh Adelard. aku bingung, bagaimana bisa dia mengetahui rumahku? padahal aku baru masuk sekolah sehari. Terus, apa dia dendam padaku gara2-bangku-yang-kuambil?- kurasa itu tidak masuk akal.
"Marley, ayolah bantu aku berpikir" tukasku malas melihat Marley yang keasikan menghabiskan chitatonya, mmh maksudku chitato ku. "Kamu tidak lihat aku sedang sibuk?" tutur Marley lalu memasukkann chitato ke mulutya. "Demi apapun aku ingin membunuhmu!" ucapku sinis lalu berjalan keluar kamar.
"Trolla, bisa tolong telponkan pihak sekolah?" pintaku ke Trolla yang sedang menyiapkan sarapan. "Demi Tuhan, kenapa kamu belum bersiap2 ke sekolah?" ucapnya kaget."kamu tidak mau mobil kita lecet gara2 anak tidk tau sopan santun yang masih menungguku di depan gerbang kan?" aku balik bertanya. Trolla melihat keluar sebentar. "Apa yang meraka lakukan disitu?" ucapnya dengan nada heran. "Entahlah," balasku. "tolong bilang ke pihak sekolah kalau Larissa Mathilda sedang sakit" lanjutku. "Hey? Pardon?" tukas trolla bingung dengan permintaanku. "Mom and Dad said i can do anything i want" ucapku lalu berjalan ke kamar. sekilas ku liat raut ragu di mukanya, tapi sebodo amat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
ternyata keputusanku untuk tidak masuk sekolah hari ini adalah keputusan yang salah. yaah walaupun tadi ku lihat Adelard dan teman2nya sudah beranjak, tapi di rumah sendiri membuatku bingung harus melakukan apa. huh seandainya ada Marley. hey? aku bilang apa barusan? aku baru kenal Marley kemarin dan itu pun dengan cara yang aneh. Kenapa aku mengharapkannya ada di sini?
"Hey Math! aku disini!" teriak seseorang dari balik jendela. "kok?" ujarku terbata, bingung kenapa Marley tiba2 datang sesaat setelah aku memikirkannya. "kenapa? bukannya tadi kamu memanggilku?" tanya Marley bingung. "Well, lupakan. Ajak aku ke tempat yang asik, aku bosan di rumah" ucapku meminta. "ikuti aku, Math!" ucapnnya lalu berjalan mendahuluiku. "Berhenti memanggilku Math. kesannya seperti aku in pecinta matematika saja". Marley menoleh, "baiklah maaf" ujarnya, masih terus berjalan
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"this is the most beautiful place that i've see" tukasku terkesima. "oh" ucap Marley tak acuh. "aku tidak berbicara denganmu" ucapku mengabaikannya, lalu berjalan sendiri mendekati tepian danau. Tempat yang ditujukan Marley ini terletak tidak jauh dari rumahku, dan ini lebih dari indah."Kamu harus membalasku dengan chitato" ujar Marley mengikutiku dari belakang. "Kalau aku bilang tidak mau?" ucapku. Marley mengangkat bahu "mungkin aku bisa memakannya saat kamu tidur?". "dasar pencuri" ucapku. Marley tertawa ringan. "kamu tau? bahkan aku sudah pernah mencuri sebelumnya" ucapnya di sela tawa.
"Kamu? pernah mencuri sebelumnya?"
"iya, dan aku sudah berencana untuk mencuri lagi"
"Benda apa yang akan kamu curi selanjutnya?"
"mmh, kira2 benda yang bagus apa?"
"kenapa kamu malah balik bertanya? katamu tadi sudah punya rencana"
"hahaha, iya. aku akan mencuri hatimu"
Marley menghentikan langkahnya saat bicara seperti itu. "Hey kau ini hantu, tidak usah berbicara yang aneh2" ucapaku, melihat sekeliling lalu duduk di tempat yang ku annggap bersih. Marley duduk disampingku. "Lihat deh" ucapnya sambil menunjuk ke arah kupu2 iindah yang sedang hinggap di salah satu bunga. "cantik ya" respon ku singkat. "tau bedanya kupu2 ini sama kamu nggak?" ucap Marley bertanya. "nggak" jawabku singkat. "kupu2 ini akan selalu terbang di alam bebas, kalau kamu akan selalu terbang di pikiranku".
Aku tau kali ini wajahku memerah. dasar hantu kurang ajar. "hahaha, ternyata orang judes sepertimu nggak kuat sama gombalan ya" ucap Marley tertawa. "Ihh dasar!!" ucapku sambil memukulnya, tapi belum sempat ku memukul tiba2 ada yang datang. "well well well,, ternyata kalau sakit berobatnnya disini ya?" ucapnya. Aku dan Marley terperangah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
manisnya untaian kata yang menari dalam udara, kini terkikis oleh caci maki,,
lalu tehenyak dengan mudahnya oleh kerasnya amarah...
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
" Beri tau aku, kenapa mereka berada di disitu jam segini? mengganggu orang tidur saja!" ucapku mengintip kumpulan anak SMA yang menduduki motor masing-masing. "yee, aku tidak tau, tanya saja sendiri!" ucap Marley sambil menjauh."ayolah, kamu ini hantu. mereka tidak akan melihatmu. kamu bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan tanpa ketahuan" ucapku masih membujuknya. "kalau aku masih tidak mau?" ujar Marley.. "Tuhaan, kalau kamu mau membantuku,, kamu boleh ambil chitato dikamarku sepuasmu!" janjiku memelas. Marley menarik kedua ujung bibirnya ke atas. huh dasar..
----------------------------------------------------------------------------
aku masih mondar mandir di kamar, mencari cara agar bisa tetap ke sekolah tanpa dikerjai. Anak2 SMA yang menduduki motor tadi subuh ternyata berniat mengangguku. Ya, mereka genk yang di ketuai oleh Adelard. aku bingung, bagaimana bisa dia mengetahui rumahku? padahal aku baru masuk sekolah sehari. Terus, apa dia dendam padaku gara2-bangku-yang-kuambil?- kurasa itu tidak masuk akal.
"Marley, ayolah bantu aku berpikir" tukasku malas melihat Marley yang keasikan menghabiskan chitatonya, mmh maksudku chitato ku. "Kamu tidak lihat aku sedang sibuk?" tutur Marley lalu memasukkann chitato ke mulutya. "Demi apapun aku ingin membunuhmu!" ucapku sinis lalu berjalan keluar kamar.
"Trolla, bisa tolong telponkan pihak sekolah?" pintaku ke Trolla yang sedang menyiapkan sarapan. "Demi Tuhan, kenapa kamu belum bersiap2 ke sekolah?" ucapnya kaget."kamu tidak mau mobil kita lecet gara2 anak tidk tau sopan santun yang masih menungguku di depan gerbang kan?" aku balik bertanya. Trolla melihat keluar sebentar. "Apa yang meraka lakukan disitu?" ucapnya dengan nada heran. "Entahlah," balasku. "tolong bilang ke pihak sekolah kalau Larissa Mathilda sedang sakit" lanjutku. "Hey? Pardon?" tukas trolla bingung dengan permintaanku. "Mom and Dad said i can do anything i want" ucapku lalu berjalan ke kamar. sekilas ku liat raut ragu di mukanya, tapi sebodo amat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
ternyata keputusanku untuk tidak masuk sekolah hari ini adalah keputusan yang salah. yaah walaupun tadi ku lihat Adelard dan teman2nya sudah beranjak, tapi di rumah sendiri membuatku bingung harus melakukan apa. huh seandainya ada Marley. hey? aku bilang apa barusan? aku baru kenal Marley kemarin dan itu pun dengan cara yang aneh. Kenapa aku mengharapkannya ada di sini?
"Hey Math! aku disini!" teriak seseorang dari balik jendela. "kok?" ujarku terbata, bingung kenapa Marley tiba2 datang sesaat setelah aku memikirkannya. "kenapa? bukannya tadi kamu memanggilku?" tanya Marley bingung. "Well, lupakan. Ajak aku ke tempat yang asik, aku bosan di rumah" ucapku meminta. "ikuti aku, Math!" ucapnnya lalu berjalan mendahuluiku. "Berhenti memanggilku Math. kesannya seperti aku in pecinta matematika saja". Marley menoleh, "baiklah maaf" ujarnya, masih terus berjalan
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"this is the most beautiful place that i've see" tukasku terkesima. "oh" ucap Marley tak acuh. "aku tidak berbicara denganmu" ucapku mengabaikannya, lalu berjalan sendiri mendekati tepian danau. Tempat yang ditujukan Marley ini terletak tidak jauh dari rumahku, dan ini lebih dari indah."Kamu harus membalasku dengan chitato" ujar Marley mengikutiku dari belakang. "Kalau aku bilang tidak mau?" ucapku. Marley mengangkat bahu "mungkin aku bisa memakannya saat kamu tidur?". "dasar pencuri" ucapku. Marley tertawa ringan. "kamu tau? bahkan aku sudah pernah mencuri sebelumnya" ucapnya di sela tawa.
"Kamu? pernah mencuri sebelumnya?"
"iya, dan aku sudah berencana untuk mencuri lagi"
"Benda apa yang akan kamu curi selanjutnya?"
"mmh, kira2 benda yang bagus apa?"
"kenapa kamu malah balik bertanya? katamu tadi sudah punya rencana"
"hahaha, iya. aku akan mencuri hatimu"
Marley menghentikan langkahnya saat bicara seperti itu. "Hey kau ini hantu, tidak usah berbicara yang aneh2" ucapaku, melihat sekeliling lalu duduk di tempat yang ku annggap bersih. Marley duduk disampingku. "Lihat deh" ucapnya sambil menunjuk ke arah kupu2 iindah yang sedang hinggap di salah satu bunga. "cantik ya" respon ku singkat. "tau bedanya kupu2 ini sama kamu nggak?" ucap Marley bertanya. "nggak" jawabku singkat. "kupu2 ini akan selalu terbang di alam bebas, kalau kamu akan selalu terbang di pikiranku".
Aku tau kali ini wajahku memerah. dasar hantu kurang ajar. "hahaha, ternyata orang judes sepertimu nggak kuat sama gombalan ya" ucap Marley tertawa. "Ihh dasar!!" ucapku sambil memukulnya, tapi belum sempat ku memukul tiba2 ada yang datang. "well well well,, ternyata kalau sakit berobatnnya disini ya?" ucapnya. Aku dan Marley terperangah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
manisnya untaian kata yang menari dalam udara, kini terkikis oleh caci maki,,
lalu tehenyak dengan mudahnya oleh kerasnya amarah...
Rabu, 22 Mei 2013
This ain't a Fairytale #part 2
"Saking asiknya mandi, aku tidak sadar kalau tirai mandiku sedikit
bergerak2. Ah sebodo gila, paling2 angin. tapi, tiba2 ada yang mencuat
keluar dari tirai itu. "KYAAA!! SIAPA KAMUU!?"
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ohh, jadi kamu yang nempatin rumah ini dulu?" tanyaku kepada sosok yang berdiri melayang di hadapanku ini. "Iya" tuturnya. "hey? aku belum memperkenalkan diri kan? Aku Marley," ujarnya melanjutkan. "Mathilda" ucapku lalu duduk di tepian kasur. "Terus bagaimana kau bisa masuk dan menyelinap ke kamar mandi? padahal kamar mandinnya sudah ku kunci?" ucapku masih penasaran. "Aku sudah pernah bilang, aku ini hantu, dan hantu bisa menembus beda apapun itu, termasuk pintu kamar mandi" ujarnya. lalu berjalan mengelilingi kamar. "Sungguh, aku senang berteman dengan manusia" tuturnya.
"Hey? kau suka chitato?" ucapnya sambil mengangkat sebungkus chitato sapi panggang dari tumpukannya. "Sangat suka" jawabku tersenyum. "Boleh aku minta satu?" pintanya. "Kau hantu, bukannya hantu memakan manusia?" ujarku heran.
"Aku ini vegetarian, gak suka makan manusia"
"Lalu kalo vegetarian kenapa km makan snack?"
"Vegetarian dalam istilah hantuu adalah memakan makan manusia"
"ohh begitu, ya ambil saja sesukamu"
"Mathildaa!! makan malam sudah siaapp!" panggil Nancy dari bawah. "Okee!" ucapku balas teriak.
"Marley, aku makan malam dulu y?" tanyaku sambil menatap sekeliling kamar. "Hey? kamu di mana?"
ahhh ternyata Marley sudah pergi, tidak pamit lagi. Sungguh tidak sopan. Ternyata bukan hanya manusianya saja, hantu Indonesia pun tak punya sopan santun --"
------------------------------------------------------------------------------
"Dad sama Mom mana?" tanyaku kepada Nancy yang menyiapkan makan malam. "Mereka sedang ada tugas ke Singapura untuk beberapa hari. Katanya kau boleh lakukan apapun yang kau mau" tutur Nancy sambil berjalan menuju dapur. "Lalu? aku akan makan sendirian untuk beberapa hari?" ucapku setengah berteriak. Mood baik yang semula muncul ketika melihat sup asparagus kepiting hilang seketika.
"Marley!" pekikku ketika melihat Marley yang muncul tiba2. "ssst, gak usah teriak! mereka akan menganggapmu gila" ujar Marley sambil menunjuk kearah pengasuh2ku. "Siapa Mathilda?" tanya Mitch dengan setengah berteriak. "bukan siapa2" ucapku.
"Mana orang tuamu?" tanya Marley membuka obrolan. "sebodo amat sama mereka. Mereka tidak akan peduli denganku. Sedikit pun tidak" jawabku malas. "Eiiittss, gak boleh berbicara seperti i..." belum selesai Marley berbicara aku sudah mencela "udahh ah, apa yang kau lakukan disini?" masih dengan suara berbisik. "Kamu gak mau aku temeniin makan?" tanya Marley sambil menyuap sesendok sup asparagus kemulutnya. "menemaniku? kamu? tidak tidak tidak" ujarku malas. "Tadi kamu bilang kalau kamu gak mau makan sendirian" tuturnya membela diri. "Puuahh! hambar gini dimakan!" marley menyemburkan supnya. "Ih jorok" ucapku.
"hambar tau" ucap marley mengulangi. "Masa sih?" aku mengambil sesendok supnya lalu memakannya. "Puaah!". "ih jorok" ucap marley meniruku. "benerkan hambarr?" ujarnya sambil tersenyum. "Ini Asin bodoh!" ucapku jengkel. "Kamu yang bodoh teman," uca Marley. "Kamu tau? hantu tidak bisa merasakan rasa makanan, tidak bisa mencium bau, tidak bisa merasakan suhu" lanjutnya. "lalu? kenapa kamu tetap makan kalau gak bisa merasakan apapun?" tanyaku bingung. "hantu juga butuh energi" ucap Marley sambil terus memasukkan sup asparagus kepitingku.
tunggu, sup as-pa-ra-gus-ku? ku?? "Hey?! kamu menghabiskan makanankuu!" sambil berusaha memukul tangan Marley. Namun hantu itu keburu menghilang.Sial!
----------------------------------------------------------------------------------------
"Hey bangun!" ucap seorang yang hanya ku dengar samar. Suara cowok. "hah? siapa kamu? erangku lalu membuka mata. lalu melirik jam, 01:15 am. "Hah? gila! siapa yangmembangunkan aku jam segini?!"
-------------------------------------------------------------------------------------
Dingin malam tak lagi terlihat anggun dalam dalam kegelisahan...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ohh, jadi kamu yang nempatin rumah ini dulu?" tanyaku kepada sosok yang berdiri melayang di hadapanku ini. "Iya" tuturnya. "hey? aku belum memperkenalkan diri kan? Aku Marley," ujarnya melanjutkan. "Mathilda" ucapku lalu duduk di tepian kasur. "Terus bagaimana kau bisa masuk dan menyelinap ke kamar mandi? padahal kamar mandinnya sudah ku kunci?" ucapku masih penasaran. "Aku sudah pernah bilang, aku ini hantu, dan hantu bisa menembus beda apapun itu, termasuk pintu kamar mandi" ujarnya. lalu berjalan mengelilingi kamar. "Sungguh, aku senang berteman dengan manusia" tuturnya.
"Hey? kau suka chitato?" ucapnya sambil mengangkat sebungkus chitato sapi panggang dari tumpukannya. "Sangat suka" jawabku tersenyum. "Boleh aku minta satu?" pintanya. "Kau hantu, bukannya hantu memakan manusia?" ujarku heran.
"Aku ini vegetarian, gak suka makan manusia"
"Lalu kalo vegetarian kenapa km makan snack?"
"Vegetarian dalam istilah hantuu adalah memakan makan manusia"
"ohh begitu, ya ambil saja sesukamu"
"Mathildaa!! makan malam sudah siaapp!" panggil Nancy dari bawah. "Okee!" ucapku balas teriak.
"Marley, aku makan malam dulu y?" tanyaku sambil menatap sekeliling kamar. "Hey? kamu di mana?"
ahhh ternyata Marley sudah pergi, tidak pamit lagi. Sungguh tidak sopan. Ternyata bukan hanya manusianya saja, hantu Indonesia pun tak punya sopan santun --"
------------------------------------------------------------------------------
"Dad sama Mom mana?" tanyaku kepada Nancy yang menyiapkan makan malam. "Mereka sedang ada tugas ke Singapura untuk beberapa hari. Katanya kau boleh lakukan apapun yang kau mau" tutur Nancy sambil berjalan menuju dapur. "Lalu? aku akan makan sendirian untuk beberapa hari?" ucapku setengah berteriak. Mood baik yang semula muncul ketika melihat sup asparagus kepiting hilang seketika.
"Marley!" pekikku ketika melihat Marley yang muncul tiba2. "ssst, gak usah teriak! mereka akan menganggapmu gila" ujar Marley sambil menunjuk kearah pengasuh2ku. "Siapa Mathilda?" tanya Mitch dengan setengah berteriak. "bukan siapa2" ucapku.
"Mana orang tuamu?" tanya Marley membuka obrolan. "sebodo amat sama mereka. Mereka tidak akan peduli denganku. Sedikit pun tidak" jawabku malas. "Eiiittss, gak boleh berbicara seperti i..." belum selesai Marley berbicara aku sudah mencela "udahh ah, apa yang kau lakukan disini?" masih dengan suara berbisik. "Kamu gak mau aku temeniin makan?" tanya Marley sambil menyuap sesendok sup asparagus kemulutnya. "menemaniku? kamu? tidak tidak tidak" ujarku malas. "Tadi kamu bilang kalau kamu gak mau makan sendirian" tuturnya membela diri. "Puuahh! hambar gini dimakan!" marley menyemburkan supnya. "Ih jorok" ucapku.
"hambar tau" ucap marley mengulangi. "Masa sih?" aku mengambil sesendok supnya lalu memakannya. "Puaah!". "ih jorok" ucap marley meniruku. "benerkan hambarr?" ujarnya sambil tersenyum. "Ini Asin bodoh!" ucapku jengkel. "Kamu yang bodoh teman," uca Marley. "Kamu tau? hantu tidak bisa merasakan rasa makanan, tidak bisa mencium bau, tidak bisa merasakan suhu" lanjutnya. "lalu? kenapa kamu tetap makan kalau gak bisa merasakan apapun?" tanyaku bingung. "hantu juga butuh energi" ucap Marley sambil terus memasukkan sup asparagus kepitingku.
tunggu, sup as-pa-ra-gus-ku? ku?? "Hey?! kamu menghabiskan makanankuu!" sambil berusaha memukul tangan Marley. Namun hantu itu keburu menghilang.Sial!
----------------------------------------------------------------------------------------
"Hey bangun!" ucap seorang yang hanya ku dengar samar. Suara cowok. "hah? siapa kamu? erangku lalu membuka mata. lalu melirik jam, 01:15 am. "Hah? gila! siapa yangmembangunkan aku jam segini?!"
-------------------------------------------------------------------------------------
Dingin malam tak lagi terlihat anggun dalam dalam kegelisahan...
Langganan:
Postingan (Atom)


